Lumbunginformasi.id Jakarta – Duta Besar Bosnia dan Herzegovina untuk Indonesia, Armin Limo, mengapresiasi kunjungan delegasi Republik Indonesia yang dipimpin Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, ke Masjid Istiqlal Sarajevo. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian ornamen ukir kayu Jepara sekaligus memperkuat hubungan persahabatan Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina.
Dalam keterangan kepada media pada Selasa (20/10/2026), Armin menyampaikan bahwa misi restorasi ornamen ukir Jepara yang berlangsung pada 14–19 Oktober 2026 merupakan kelanjutan dari inisiatif Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, saat melakukan kunjungan kerja ke Bosnia dan Herzegovina pada Februari 2026.
Saat mengunjungi masjid tersebut pada Februari lalu, Rerie melihat sejumlah ornamen kayu yang membutuhkan perawatan. Berangkat dari kepedulian terhadap warisan budaya Indonesia, ia kemudian menginisiasi restorasi ornamen tersebut sekaligus menyumbangkan kaligrafi ukir Jepara untuk ditempatkan secara permanen di dalam masjid melalui Duta Besar RI untuk Bosnia dan Herzegovina, Manahan M.P. Sitompul.
“Tanpa kunjungan dan donasinya di bulan Februari, misi restorasi ini tidak akan pernah terwujud,” kata Armin.
Menurut Armin, peran Rerie menjadi penghubung penting antara diplomasi parlemen, pelestarian budaya, dan keterlibatan langsung para perajin Jepara dalam merawat warisan seni ukir Indonesia di luar negeri.
Masjid Istiqlal Sarajevo, Simbol Persahabatan Indonesia-Bosnia
Masjid Istiqlal Sarajevo memiliki nilai historis dalam hubungan Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina. Masjid yang juga dikenal masyarakat setempat sebagai Masjid Indonesia itu dibangun melalui hibah masyarakat dan pemerintah Indonesia dengan pendanaan sebesar 2,7 juta dolar AS. Pembangunannya selesai pada September 2001.
Nama Istiqlal, yang berarti kemerdekaan, dipilih untuk memperingati kemerdekaan Bosnia dan Herzegovina. Kehadiran masjid tersebut menjadi simbol solidaritas Indonesia kepada masyarakat Bosnia dan Herzegovina setelah perang.
Di dalam bangunan itu, ornamen ukir kayu khas Jepara menjadi bagian penting dari interior masjid. Keberadaan ornamen tersebut tidak hanya memperindah bangunan, tetapi juga merepresentasikan kekayaan seni dan tradisi Indonesia yang telah hadir di tengah masyarakat Bosnia dan Herzegovina selama lebih dari dua dekade.
Pada 2026, kegiatan restorasi ini juga bertepatan dengan peringatan 25 tahun berdirinya Masjid Istiqlal Sarajevo.
Restorasi Ukir Jepara sebagai Diplomasi Budaya
Armin menegaskan, pengiriman perajin dari Jepara, Jawa Tengah, untuk merestorasi ornamen masjid memiliki makna lebih luas daripada sekadar memperbaiki bagian bangunan yang rusak.
Menurutnya, seni ukir Jepara merupakan warisan budaya yang diwariskan lintas generasi. Keterlibatan para perajin dalam restorasi tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan keterampilan, nilai seni, dan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
“Pengiriman para perajin Jepara bukan sekadar upaya memperbaiki ornamen yang rusak, tetapi juga bentuk diplomasi budaya yang memperkuat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina,” ujar Armin.
Ia juga menyoroti upaya bersama untuk mendorong seni ukir Jepara memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pelestarian ornamen ukir Jepara di Sarajevo dinilai dapat memperluas pengenalan tradisi tersebut di tingkat internasional.
Selain merestorasi ornamen kayu, inisiatif tersebut mencakup pembuatan kaligrafi kayu bertuliskan nama Nabi Muhammad untuk ditempatkan di dalam masjid. Karya ini menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi keagamaan setempat sekaligus merepresentasikan persaudaraan kedua bangsa.
Membawa Nama Jepara ke Panggung Dunia
Keterlibatan para perajin Jepara dalam restorasi Masjid Istiqlal Sarajevo menunjukkan bahwa warisan budaya dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat dari negara berbeda.
Melalui karya ukir, para perajin tidak hanya mempertahankan keahlian tradisional, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya Jepara kepada dunia. Upaya tersebut sekaligus membuka ruang bagi diplomasi budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Apresiasi Dubes Bosnia dan Herzegovina terhadap inisiatif Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya kolaborasi antara diplomasi parlemen, perwakilan diplomatik, dan para pelaku budaya dalam menjaga warisan bersama.
Dengan restorasi ornamen ukir Jepara di Masjid Istiqlal Sarajevo, persahabatan Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina tidak hanya terjaga melalui hubungan diplomatik formal, tetapi juga melalui karya seni yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan kemanusiaan.
Bagi Jepara, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkenalkan seni ukir sebagai salah satu identitas daerah yang memiliki nilai dan daya jangkau internasional.***
DPP NSDM
Lumbjnginformasi.id